www.ika-riris.info

Newsflash

'Dialah yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal darah, kemudian kamu dilahirkan sebagai seorang anak, kemudian dibiarkan kamu sampai dewasa, lalu menjadi tua. Tetapi di antara kamu ada yang dimatikan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) agar kamu sampai kepada waktu yang ditentukan, agar kamu mengerti.' QS 40:67

'Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Maka apabila Dia hendak menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.' QS 40:68

 

Phnom Penh-2014

E-mail Print PDF

Sebenarnya saya berencana ke Hongkong bersama Tetangga saya tahun 2014 ini, namun apa daya, saat tiket promo hadir, tiket Jakarta-Hongkong belum ada yang murah. Karena memang tujuan travelling untuk refreshing, jadi saya pikir, yang penting saya mendatangi destinasi baru, berharap mendapat pengalaman baru.

Airasia menggelar BIG 0, bergadang semalaman tanggal 31 Maret 2013, hasilnya saya mendapatkan tiket Kuala Lumpur-Phnom Penh untuk tanggal 2 Januari 2014, dan tiket Phnom Penh-Kuala Lumpur untuk tanggal 4 Januari 2014, total harga tiket MYR 358/2 orang PP. Kemudian tiket Kuala-Lumpur-Yogyakarta tanggal 5 Januari 2014 untuk 2 orang seharga MYR 140. Murah banget kan???? Ohya semua tiket Airasia ini belum termasuk bagasi, kursi, dll ya. Tambahan informasi bagasi Airasia 20 kg saat ini dijual MYR 40.

Setelah menginformasikan harga tiket saya kepada Tetangga saya, beliau bersedia ngikut bertiga, kebetulan promonya masih ada, jadilah tiket untuk 3 orang dengan rute dan tanggal yang sama dgn yang saya pilih. Saya membeli tiket untuk tetangga saya pada tanggal 1 April 2013.

Kemudian Tetangga saya membeli tiket Lion Air utk rute Jakarta-Kuala Lumpur untuk tanggal 1 Januari 2014, dapat harga murah juga Rp 450.000/orang all in (murah banget nih).  Panik belum dapat tiket ke Jakarta, Tetangga saya memaksa saya segera membeli tiket pulang ke Jakarta. Kebetulan ada tiket promo Garuda, jadilah saya memesan tiket Solo-Jakarta Rp 467.000/orang untuk tanggal 5 Januari 2014. Summary-nya ada Lion Air, Airasia, Garuda. Ada Kuala Lumpur (Malaysia), Phnom Penh (Kamboja), Yogyakarta (Indonesia), Solo (Indonesia). Definetly, ini akan menjadi liburan seru dengan melibatkan 5 Kota berbeda, 4 desitinasi berbeda, 3 pesawat berbeda. Keren ga tuh???? Takut Kehabisan tiket promo, akhirnya tanggal 24 April 2013 saya issued tiket Jakarta ke Kuala Lumpur seharga Rp 450.000 untuk saya dan Rp 500.000 untuk suami saya (tiket promo Rp 450.000 terpantau cuma tersedia untuk 4 seat saja).

Kehebohan terjadi saat saya menyadari harusnya saya pesan tiket Yogyakarta-Jakarta dan bukannya Solo-Jakarta. Haduhhhh!!! Untungnya Solo dan Yogyakarta tidak terlalu jauh, akhirnya pada hari H saya menyewa mobil untuk layanan drop off dari bandara Yogya ke Solo seharga Rp 350.000.

Untuk hotel saya memesan lewat BOOKING. Untuk 1 malam di Kuala Lumpur seharga Rp 220.449 (MYR 68,88) belum termasuk tax 6% dan service charge 10%, tidak ada breakfast. Untuk harga kamar di Phnom Penh kami memesan seharga Rp 608.214 (USD 62,4) untuk 3 hari 2 malam, termasuk sarapan untuk 2 orang.

Langkah selanjutnya seperti biasa, menentukan tujuan berlibur.

Akhir Oktober 2013, atau sekitar 2 bulan lagi, tetangga saya mengabarkan kalau ada wahana baru yang harus kami kunjungi di Malaysia, yaitu Red Carpet Wax Museum. Saya pun segera menjelajah internet untuk mencari tahu lebih lanjut. Mulai dari alamat menuju lokasi (I-CITY), peta rute monorail, peta rute bis,

Dan tak terasa, berbulan-bulan menunggu, akhirnya saat terbang datang juga

Jakarta, 31 Desember 2013

Waktunya packing, tak lupa mengecek ulang persiapan dokumen tiket, voucher, hotel, paspor, dan mata uang lokal yang akan digunakan di negara tujuan wisata. Pada bulan Desember 2013, kurs terpantau sekitar Rp 12.000/USD dan Rp 3.600/Ringgit Malaysia. Niat tidur cepat batal karena saya mencari masukan dan sosialisasi rute berwisata di Kamboja kepada suami saya.

Happy New Year 2014

Jakarta--->Kuala Lumpur, Rabu, 1 Januari 2014

Pukul 04.00 alarm berdering, bangun, mandi, sholat shubuh. Taxi yang kami pesan sudah menjemput pukul 5.30 wib. Tetangga saya sudah sampai di terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Pesawat jam 09.00 jadi kami harus menunggu beberapa saat hingga counter check in dibuka.

At 2D Terminal, Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, Indonesia

Kami pun sempat bertemu Cak Lengky yang akan berlibur bersama keluarga ke Singapore. Rupanya waktu liburan yang kami pilih merupakan waktu favorit banyak orang untuk beribur menghabiskan waktu liburan sekolah anak. Masih ada waktu, kami pun menunggu di Lounge Citibank menikmati sarapan pagi (kalau tidak punya kartu kredit citibank platinum bayarnya Rp 100.000/orang). Akhirnya kami pun berangkat menggunakan Lion Air, pesawat delay sekitar 35 menit.

Sampai di KLIA Kuala Lumpur International Airport kami turun ke lantai 1 (pakai lift sebelah kanan) untuk menaiki 'Kuala Lumpur Express" seharga MYR 30/orang. Kalau anda berniat naik bis, turunlah di lantai 2, pool bis umum ada di seberang pintu keluar, melewati taxi dan bis besar bertulis 'Bas Persiaran.' Kereta 'KL Express' yang kami naiki sampai di stasiun KL Sentral pada hitungan menit ke-29. Setelah keluar, belok kiri, kemudian naik satu lantai, kami pun menaiki 'Rapid KL' (di Indonesia mungkin monorail) dengan mebayar MYR 1/orang untuk rute KL Sentral-Pasar Seni. Kebetulan hotel kami berlokasi di jalan Petaling yang dapat dijangkau dari stasiun Pasar Seni. Untuk membeli tiket, kami harus membeli lewat mesin (tidak disediakan lagi penjualan melalui petugas loket) adapun pecahan yang dapat digunakan MYR 1, MYR 5 dan uang koin. Jadi ada baiknya memang anda menukarkan uang pecahan kecil di Indonesia agar tidak mengalami kesulitan di negara tujuan.

KL Sentral Station Level 2, we were waiting "Rapid KL"

Sampai di stasiun Pasar Seni, kami sampai di Hotel China Town yang berada di jalan Petaling. Pengalamannya? Pasti capek naik turun tangga dengan membawa tas koper berat. Sampai hotel sudah jam 2 siang waktu setempat, sudah bisa masuk kamar. Harga yang kami pesan seharga MYR 68,8 setelah pajak kami harus membayar MYR 80/room tapi kami wajib membayar MYR 110 dimana yang MYR 30 deposit untuk kunci yang akan dikembalikan saat check out. Karena besok pagi-pagi kami harus terbang, maka kami pun memesan taxi ke bandara jam 04.00 dini hari seharga MYR 180/minivan. 20 menit kemudian, kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini kami memutuskan untuk makan siang dahulu di semua rumah makan yang dimiliki orang melayu, pilihan makanannya banyak, disajikan secara prasmanan, dan yang palinng penting murah meriah. Harga makanan bervariasi tergantung lauk yang anda ambil. Sebagai gambaran, untuk lauk yang tertentu anda bisa membayar cukup MYR 5/orang bersama teh manis.

Various Food

Lunch

Selesai makan, kami pun kembali menuju ke Stasiun Pasar Seni. Sebenarnya di depan stasiun ada "Pasar Seni' suasananya seperti bugis junction bila anda pernah ke singapore. Disana banyak terdapat souvenir seperti yang mungkin bisa anda temui di Malioboro (Indonesia). Cuma disini harganya lebih mahal. Di stasiun kami membeli lagi tiket 'Rapid KL' menuju Stasiun KL Sentral. Dari sana kami turun ke bawah, antri di loket membeli tiket KTM (commuter) menuju 'Padang Jawa' seharga MYR 2,9/orang.

You must buy 'Rapid KL' Ticket by this machine

Heading to 'Padang Jawa' by KTM

Sekitar 10 menit kemudian, kereta komuter (seperti halnya komuter di Jakarta) datang, kami pun naik. Ternyata cukup jauh menuju lokasi tujuan kami, hampir 1 jam rasanya. Sampai di 'Padang Jawa', kami pun bergegas mencari taxi, setelah bernegosiasi dengan sopir taxi, kami pun mendapat harga MYR 15/taxi untuk menuju I-City lokasi tujuan kami. Karena kami berlima, kami pun harus memesan 2 taxi. We had no choice. Sekitar 15 menit berkendara, sampailah kami di I-city. Konsepnya seperti Dufan di Jakarta cuma lebih kecil dan lebih sepi, kami pun bergegas mencari bangunan berwarna merah, tempat 'Red Carpet' Wax Museum, kebetulan teman sma saya, Sarah sudah kesana 1 bulan yang lalu, jadi saya segera bisa mendapatkan informasi tambahan. Ohya Red Carpet, wax museum, I-City ini terletak di Negara Bagian Selangor, Malaysia. Tarif normal masuk Red Carpet MYR 100/orang akan tetapi waktu kami datang sedang ada promo diskon jadi kami hanya membayar MYR 50/orang.

Red Carpet, Wax Museum, I-City, Selangor, Malaysia

Speech

@ Red Carpet

@ Red Carpet

@ Red Carpet

@ Red Carpet

@ Red Carpet

@ Red Carpet

Keluar dari Red Carpet, kami pun memutuskan pulang naik taxi. Jadi tadi selama perjalanan dari stasiun Padang Jawa ke I-City, suami saya melakukan negosiasi harga bila kami memilih pulang ke Kuala Lumpur menggunakan taxi. Harga yang disepakati MYR 80/taxi, akhirnya kami pun menelpon taxi, meminta mereka menjemput kami. Actually, di parkiran I-City terdapat taxi stand by jadi anda bisa juga memesan taxi langsung disana. Sebagai tambahan informasi, 99% taxi di Malaysia tidak menggunakan argo jadi rata-rata mereka minta harga borongan (dua kali dari tarif argo). Alhamdulillah tidak perlu melangkah naik turun stasiun lagi, sampai di Petaling, kami kembali ke rumah makan yang tadi siang kami kunjungi, selesai makan malam, kami kembali ke hotel dan istirahat.

Kuala Lumpur-->Phnom Penh, Kamis, 2 Januari 2014

Jam 4.00 dini hari taxi yang dipesan sudah siap, kami pun menuju LCCT Low Carrier Cost Transport dimana semua pesawat Airasia berangkat dari bandara ini (seperti Terminal 3 di Cengkareng). Jarak antara LCCT dan KLIA sekitar 10 km, jadi disarankan menyampaikan tujuan dengan jelas kepada Driver agar tidak salah antara ke KLIA atau LCCT. Jam 7.00 pagi kami pun terbang menuju Phnom Penh, Kamboja. Sampai di Airport kami sudah dijemput Driver minivan yang sudah kami pesan sebelumnya melalui email kepada hotel tempat kami menginap. Kami membayar USD 20/pick up service. Sopir minivan duduk di kiri, pintu masuk penumpang di sebelah kanan. Sekitar 30 menit kemudian, kami pun sampai di hotel suite home. Ternyata hotelnya sangat strategis, lokasinya di belakang 'Royal Palace' yang menjadi tempat kediaman raja kamboja. Setelah menyelesaikan proses administrasi, kami pun merencanakan jadwal kunjungan wisata bersama petugas dari hotel, sekaligus yang membantu kami bernegosiasi harga sewa Tuk Tuk dengan sopirnya (banyak Tuk Tuk yang berada di depan hotel). Setelah sepakat dengan harga sewa USD 25, kami pun pergi naik Tuk Tuk setelah menitipkan tas kepada pihak hotel. Ohya di kamboja, mata uang yang berlaku adalah USD dan Riil (mata uang kamboja). Jadi anda cukup membawa USD dan bisa transaksi dimana-mana. Tantangan lain di kamboja, toilet tidak dilengkapi dengan semprotan air.

Perjalanan pertama dimulai dengan mengunjungi National Museum yang tidak terlalu jauh dari hotel. Untuk masuk dikenakan biaya sebesar USD 5/orang. Pada malam hari jam 18.00 ada pertunjukan tari-tarian di tempat ini.

Admission Ticket USD 5/pax

@ National Museum

Dari sini, kami melanjutkan perjalanan ke Central Market, surganya belanja, waktunya membeli cinderamata. Ohya jangan lupa menawar ya, semakin banyak anda membeli semakin besar kemungkinan anda mendapatkan harga spesial. Beberapa pedagangan memahami bahasa melayu jadi anda tidak perlu khawatir, cara praktis, tawar menawar dengan menggunakan kalkulator.

Central Market

Phsa Thmey

A Place for Shopping

Puas berbelanja, kami menuju Mesjid di boeng kak lake, sayangnya mesjidnya sedang direnovasi, dan danau di sekitarnya surut karena perbaikan. Di sepanjang jalan menuju mesjid kami melihat banyak rumah makan bertuliskan 'Halal', karena sudah jam makan siang, kami memutuskan mampir di warung makan thailand yang bertuliskan "Halal." Cukup murah, saya memesan 1 mangkok besar tom yang dan 1 mangkok besar noodle cukup membayar USD 3. Minuman tawar disediakan gratis berikut es-nya. Kami pun memborong air mineral 600 ml karena disini dijual seharga USD 0,5 sementara tadi di central market harganya USD 1.

A Mosque at Boeng Kak Lake

Toilet di rumah makan ini memakai semprotan air. Karena merasa letih, kami pun kembali ke hotel dan memutuskan sholat di kamar saja. Jam 3 sore, kami meminta Tuk Tuk menjemput kami untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Tuk Tuk

Independent Monumen

Perjalanan kami selanjutnya adalah menikmati sunset diatas perahu di perairan sungai Mekong. Menuju ke dermaga, kami melewati taman di depan 'Royal Palace" yang berhadapan langsung dengan sungai Mekong, disana banyak terdapat burung merpati. Banyak anak-anak yang menjajakan jagung kering seharga USD 1 untuk 4 kantong plastik.

A park in front of Royal Palace

Across to Mekong River

Sebelum beranjak pergi, kami sempat membeli ice cream yang dijajakan di mobil terbuka seharga Riil 1.250/cone. Perjalanan dilanjutkan, dan sampailah kami di dermaga, menanti perahu yang akan membawa kami menyusuri sungai Mekong sambil menunggu sunset. Tepat jam 16.30 pemandu tur tiba, dan membawa kami naik ke perahu. Kami beruntung hari itu hanya kami berlima yang naik ke perahu, jadi serasa perahu milik kami saja. Hehehe

4.30 pm

Starting The Journey on Boat

USD 10/pax

Sunset on the Boat

Mekong River

Puas menikmati sunset, kami pun kembali ke hotel, istirahat. Jam 19.00 teman suami saya, Peter yang berkewarganegaraan Jerman dan sudah setahun bekerja di Phnom Penh berkesempatan dinner berasama kami. Rupanya Chandra, sangat ingin makan ayam di KFC, jadi kami pun naik Tuk Tuk berenam, berdesak-desakan dalam 1 Tuk Tuk menuju KFC di sekitar dermaga tempat kami naik perahu tadi sore, tidak terlalu jauh. Harga menu KFC tidak terlalu mahal, untuk paket nasi dan ayam seharga USD 2,8 belum termasuk minuman. Thanks to Peter who had paid for Tuk Tuk.

Wiwin-Chandra-Kiki-Riris-Aris-Peter

Phnom Penh, Jumat, 3 Januari 2014

Setelah menikmati sarapan di hotel, kami pun bergegas melanjutkan tur hari kedua di Phnom Penh. Kami memulai tur tepat pukul 8.30 dengan membayar USD 35/Tuk Tuk. Rute pertama kami pagi ini adalah kunjungan ke Royal Palace dan Silver Pagoda. Tiket masuk sebesar USD 6/orang.

Second Day Tour at Phnom Penh

Royal Palace

Silver Pagoda

Photograph of Soekarno, former president of Indonesia

Dari sini kami melanjutkan perjalanan mengunjungi 'Wat Phnom'. Menurut buku yang kami baca, tempat ini terdapat pagoda dan museum, sayang karena merasa lelah naik tangga keatas, kami pun hanya berfoto dari bawah sambil membeli makanan (seperti lemang kalau di Indonesia) dengan harga variasi, tergantung besar kecilnya. Murah kok, tidak sampai USD 1 per batangnya.

Wat Phnom

Perjalanan kami selanjutnya menuju ke 'Killing Field'. Perjalanan ditempuh hampir 1 jam karena beberapa jalan diluar Phnom Penh ternyata rusak dan sedang dalam proses perbaikan. Sangat berdebu, untung driver dengan baik hati membelikan kami masker penutup hidung. Sampai di 'Killing Field' kami membayar USD 3/orang. Masing-masing orang dari kami memperoleh alat yang bila dipencet sesuai nomer urutan pada peta akan menggambarkan kekejaman kemanusian yang terjadi saat itu. Ya 'Killing Field' adalah situs di Kamboja yang menjadi saksi sejarah lokasi pembantaian dan kuburan massal jutaan warga Kamboja oleh rezim Khmer Merah pada tahun 1975-1979, spasca berakhirnya Perang Saudara Kamboja (1970-1975). Disini suasananya menjadi sunyi, hampir tidak ada orang yang bercakap-cakap atau bahkan tersenyum, semua larut dalam keharuan. Kita seakan terhipnotis, kembali ke zaman pembantaian terjadi. So sad!

Analisis 20.000 situs kuburan massal oleh Pemetaan Program DC-Cam dan Yale University menunjukkan setidaknya 1.386.734 korban eksekusi. Perkiraan jumlah kematian akibat kebijakan Khmer Merah, termasuk penyakit dan kelaparan, berkisar dari 1,7-2500000 dari 1975 penduduk sekitar 8 juta. Pada tahun 1979, komunis Vietnam menginvasi Demokratis Kampuchea dan menggulingkan rezim Khmer Merah. Wartawan Kamboja Dith Pran menciptakan istilah "ladang pembantaian" setelah melarikan diri dari rezim.

Pol Pot lahir 19 Mei 1925 - 15 April 1998) [1] [2] adalah seorang Kamboja revolusioner yang memimpin Khmer Merah [3] dari 1963 sampai 1997. Dari tahun 1963 sampai 1981, ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dari Partai Komunis Kamboja . [4] Dengan demikian, ia menjadi pemimpin Kamboja pada tanggal 17 April 1975, ketika pasukannya menangkap Phnom Penh. Dari tahun 1976 sampai 1979, ia juga menjabat sebagai perdana menteri dari Demokrat Kampuchea . Dia memimpin sebuah komunis diktator [5] yang dikenakan bentuk radikal dari sosialisme agraria pada negara. Pemerintahannya memaksa penduduk kota untuk pindah ke pedesaan untuk bekerja di pertanian kolektif dan memaksa proyek kerja. Dampak gabungan dari eksekusi, kerja paksa, kekurangan gizi, dan perawatan medis yang buruk menyebabkan kematian sekitar 25 persen dari populasi Kamboja. [6] [7] [8] [9] Dalam semua, diperkirakan 1 sampai 3 juta orang ( dari populasi sedikit lebih dari 8 juta) meninggal karena kebijakan nya Premiership empat tahun. [10] [11] [12]

Pada tahun 1979, setelah Perang Kamboja-Vietnam , Pol Pot melarikan diri ke hutan-hutan sebelah barat daya Kamboja, dan pemerintah Khmer Merah runtuh. [13] Dari 1979-1997, ia dan sisa dari Khmer Merah beroperasi dekat perbatasan Kamboja dan Thailand. Pol Pot bunuh diri [14] pada tahun 1998 sementara di bawah tahanan rumah oleh Ta Mok faksi Khmer Merah. Sejak kematiannya, rumor bahwa ia diracuni telah bertahan. [15]lahir

 

Admission Ticket USD 3/pax

@ Killing Field

@ Killing Field

Masih dalam keharuan, kami pun meninggalkan Killing Filed. Saya lihat tak banyak orang yang sanggup masuk ke museum yang menyimpan banyak tengkorak korban kejahatan kemanusiaan ini, saya dan tetangga saya Bu Wiwin memberanikan diri melihat ke dalam. Kalau diperhatikan, semua tengkorak yang disimpan disana, mengalami keretakan pada tengkorak kepala.

Kembali ke Phnom Penh, driver mencoba jalan pintas berbeda dengan yang kami tempuh tadi, kali ini lebih cepat hanya 45 menit walau jalannya banyak yang berlubang dan rusak. Tujuan kami selanjutnya ke "Russian Market." Sayangnya kami tidak sempat berfoto disini, karena langsung mencari cinderamata. Kondisi lapak-lapak di Russian Market lebih rapi dan lebih tertata rapi. Sayangnya harga yang ditawarkan sangat mahal, beruntung kami sempat ke 'Central Market' jadi kami punya perbandingan harga yang lebih pasti. Sudah Jam makan siang, kami bersyukur menemukan KFC di depan pasar, jadi kami pun makan siang disana. Sudah jam 2 siang.

Kami pun bergegas menuntaskan perjalanan wisata hari ini dengan melakukan kunjungan 'Toul Sleng Genocidal Museum'. Masuk kesini membayar USD 3/orang. Tempat ini menjadi saksi sejarah kekejaman Pol Pot terhadap warga Kamboja. Jadi bangunan yang dulunya adalah sekolah ini berubah fungsi menjadi penjara, tempat penyiksaan tahanan sebelum dibawah dan dibunuh di 'Kiliing Field.' Dokumentasi yang berupa foto-foto korban penyiksaan terpajang disini, pria dan wanita. Sangat mengiris hati melihat kepedihan di mata wajah calon korban yang secara bergiliran dipersiapkan untuk dibunuh di 'Killing Field.'

Tuol Sleng hanya salah satu dari sedikitnya 150 pusat eksekusi di Kamboja dan sebanyak 20.000 tahanan di sana tewas.

@ Toul Sleng Museum

@ Toul Sleng Museum

Kami tidak lama disini, selain tidak mau terlalu hanyut dalam kesedihan, kami pun harus mengejar waktu sholat di hotel sebelum maghrib tiba. Sampai di hotel sebelum jam 5 sore, alhamdulillah. Patner travel saya menghabiskan malam terakhir di Phnom Penh dengan berjalan kaki membeli makan di KFC dan mampir ke butik dekat hotel. Saya dan suami memilih memesan makan malam di hotel dengan tarif sebesar USD 4 untuk makanan dan USD 2 untuk juice.

Phnom Penh---->Kuala Lumpur, Sabtu, 4 Januari 2014

Hari ini kami bangun dengan santai, tidak ada agenda khusus hari ini selain jam 1 siang kami akan menuju airport dengan minivan sewaan seharga USD 20/drop off service to airport. Hari ini jam 10 pagi suami saya dijemput Peter untuk melihat toko yang katanya jual perlengkapan kamera dengan harga 'miring.' Sementara tetangga yang jadi teman travel saya, Bu Wiwin dan anaknya, Kiki berencana kembali ke "Central Market". Mereka menyewa tuk tuk pulang pergi ke Central Market seharga USD 5. Sementara saya dan Chandra memilih istirahat di kamar hotel. Jam 12 siang, Peter berpamitan. Thanks Peter, see you again at Jakarta.

Akhirnya waktu check out tiba, kami selesai packing dan menyerahkan kunci kamar. Jam 1 siang minivan yang mengantar kami ke airport datang, kami pun menikmati Phnom Penh untuk terakhir kali. Di jalan-jalan terlihat banyak polisi berjaga-jaga, ya menurut berita yang saya dapat di internet, sedang terjadi demo oleh buruh pabrik tekstil yang meminta kenaikan upah 100%. Dan kemarin sore ada 3 buruh yang tertembak oleh polisi. Tapi untunglah perjalanan kami lancar, aman. Sampai di airport kami harus menunggu untuk pesawat jam 16.30 menuju Kuala Lumpur.

 

Sampai di Kuala Lumpur sekitar jam 19.30 akibat delay 20 menit, dari LCTT kami pun membeli tiket naik 'starshuttle' bus seharga MYR 8/orang untuk tujuan chinatown, hotel tempat kami menginap malam ini. ya hotel kami malam ini dan kemarin, sama. Karena sama, tetangga saya bisa menitipkan satu tas di hotel saat pergi ke Phnom Penh. Ditemani film tentang tsunami aceh yang berlatar belakang cerita di Phuket, Thailand, saya pun terjaga sampai tujuan. Di tengah kegelapan, bis berhenti dan menurunkan penumpang. Banyak yang turun disini, tetapi karena kami sudah pernah ke Petaling sebelumnya, kami tidak terlalu bingung menemukan jalan ke hotel kami, walau sudah pasti terasa berat mengangkat koper-koper di jalanan. Hehehe sampai di Petaling kami memutuskan mampir ke warung makan langganan kami yang kebetulan buka 24 jam. Saat itu sudah jam 23.00. Selesai makan, melewati jalan Petaling yang sedang berbenah, ya para pedagang sudah menutup lapaknya. Beruntung ada satu toko masih buka dengan mencantumkan harga (jadi tidak perlu menawar). Bu Wiwin pun membeli cinderamata dari Malaysia (ini kali pertama bu Wiwin datang ke Kuala Lumpur). Ironis memang, kalau wisatawan asing banyak yang sengaja datang ke Petaling Street, China Town, kami yang hotelnya tepat di Petaling Street malah belum sempat melihat-lihat lokasi ini. Hehehe. Capek, sudah lewat jam 12 malam, kami pun tidur. Besok harus bangun pag-pagi

Kuala Lumpur-->Yogyakarta--->Solo----->Jakarta, Minggu, 5 Januari 2014

Jam 7.00 pagi kami sudah check out dari hotel. Taxi sewaan yang mengantar kami ke bandara sudah datang, kami membayar MYR 170 (terima kasih bu Wiwin yang sudah membayar untuk ini, katanya sebagai fee karena sudah menyiapkan semua perjalanan liburan untuk kami, oke deh kalau anda memaksa hehehe, bilang aja dah ga mau lagi naik bis karena malas bawa koper berat naik turun tangga stasiun). Sebelum ke bandara, kami meminta diantar ke Petronas Twin Tower. Sayangnya jam 7 pagi disana seperti jam 5 di Jakarta, jadi gelap deh. Akan tetapi waktu yang terbatas membuat kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berfoto di depan icon malaysia ini.

Petronas Twin Tower

Good Bye Kuala Lumpur

Dan perjalanan liburan kali ini selesai sudah, sampai di Yogyakarta kami berpisah. Bu Wiwin, Kiki dan Chandar melanjutkan terbang ke Surabaya menengok suaminya yang masuk rumah sakit, untungnya saya adalah agen tiket jadi bisa seketika membeli tiket pesawat yang kebetulan sisa 3 seat menggunakan Wings Air seharga Rp 754.000/orang. Adapun tiket garudanya di re-route di counter garuda dari Solo-Jakarta menjadi Surabaya-Jakarta untuk Rabu 8 Januari 2014. Sampai di Cengkareng cukup larut karena pesawat delay hampir 3 jam, dan saya pun sampai di apartemen di daerah Pondok Bambu, Duren Sawit, Jaktim pukul 1 dini hari. So i'll take sleep now, thanks a lot, hope this writing inspire you.

It was delayed