www.ika-riris.info

Newsflash

'Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Mulia, Maha Pengampun' QS 39:5

'Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) kemudian darinya Dia jadikan pasangannya dan Dia menurunkan delapan pasang hewn ternak untukmu. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka mengapa kamu dapat dipalingkan?' QS 39:6

 

yogyakarta

E-mail Print PDF

Well this is not my first time visiting yogyakarta but maybe my first writing of Yogyakarta at this website.

It was first flight by GARUDA from Jakarta to Yogyakarta, December 3rd, 2011. By the way iif you need first flight from jakarta to Yogyakarta, you can choose Lion Air, Airasia, and Garuda. My flight was departed lately,  additional time to move passenger who were sit on chair which was emergency line. Arriving at Adi Sucipto Airport, i bought a voucher taxi (at your right side). It was Rp 35.000 by taxi to reach my friend's house around RSAU. My friend's husband is doctor at army, TNI AU. Still in morning, yogyakarta was quiet.

Rumah Mbak Poppy

Sampailah di rumah mbak Poppy. Tapi siapa itu mbak Poppy? Tahun 2005-2006 sy pernah bekerja di satu perusahaan yg berlokasi di SIER, Surabaya. Nah mbak Poppy ini salahsatu teman kerja saya waktu itu. Hubungan kami cukup dekat saat itu , membuat kami intens bersilaturahmi sampai sekarang walaupun sekarang kami sdh tidak bekerja di perusahaan yg sama, sudah menetap di beda kota pula. Well it's my second time to visit mbak poppy's house.

Setelah mbak Poppy selesai mengurus rumah, kami pun berangkat dari rumah mbak Poppy naik taxi menuju malioboro. Argo taxi menunjukkan Rp 30.000 sampai di hotel Jentra yang sudah saya booking lewat AGODA 1 bulan sebelum kedatangan saya ke Yogyakarta. Waktu check in jam 2 siang (kayaknya hotelnya juga penuh) sehingga saya belum bisa check in. Saya tinggalkan tas berat saya disana, kemudian kami berjalan menuju Hotel Ameera yang juga dibooking atas nama saya, untuk tempat menginap patner kerja saya. Kedua hotel ini berada di jalan Dagen, dan tidak jauh dari Malioboro. Within walking distance you will reach Malioboro easly. Tapi hotel Ameera juga sedang penuh, check in baru bisa dilakukan di jam 1 siang. Ok deh, kali ini kami menitipkan tas milik mbak Poppy disini. Dan kami pun memutuskan berjalan-jalan ke Malioboro, naik andong/delman. Harga pembukaan Rp 50.000 dan kami menawar Rp 30.000 (kata mbak Poppy harga pasarannya sih segitu), Bapak Kusir setuju, kami pun naik dan berjalan sesuai rute biasanya.

Naik Andong Hanya Rp 30.000-Rp 50.000

Pasar Beringharjo, Jam Operasional 10.00-17.00 Wib (katanya mbak Poppy)

Pasar Sore Malioboro

Gerbang Depan Kantor Gubernur DIY Jogjakarta


Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng yang dibangun tahun 1765 oleh VOC di Yogyakarta selama masa kolonial VOC. Gedung bersejarah ini terletak di depan Gedung Agung (satu dari tujuh istana kepresidenan di Indonesia) dan Istana Sultan Yogyakarta Hadiningrat yang dinamakan Kraton. Benteng ini dibangun oleh VOC sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan gubernur Belanda kala itu. Benteng ini dikelilingi oleh sebuah parit yang masih bisa terlihat sampai sekarang. Benteng berbentuk persegi ini mempunyai menara pantau di keempat sudutnya. Di masa lalu, tentara VOC dan juga Belanda sering berpatroli mengelilingi dindingnya. Sekarang, benteng ini menjadi sebuah museum. Di sejumlah bangunan di dalam benteng ini terdapat diorama mengenai sejarah Indonesia.Jam buka 08.00-16.00 wib, tutup di hari Senin dan hari libur nasional. Berapa tiket masuknya? Tidak usah bertanya, karena murah banget. Saya pikir kalau Anda memiliki anak-anak yang minimal sudah duduk di kelas 5 SD, penting untuk diajak kesini agar mereka bisa mendalami perjuangan sejarah di masa lalu. Hidup Indonesia !!!


Perempatan Malioboro


Kalau ini merupakan kedatangan pertama kali Anda ke Yogyakarta, sempatkan mengunjungi Keraton Yogyakarta. Jam buka 09.00-11.00 wib (kalau ga salah, lupa sih). Kalau beruntung, saat Anda kesana, Anda akan berkesempatan untuk menikmati suguhan tarian tradisional. Dan pastinya, bisa menikmati suasana di dalam istana. Selesai dari sana, Anda bisa menemukan mesjid kecil yang cukup dingin suasananya. Dan perjalanan pun bisa Anda lanjutkan mengunjungi Museum Kereta, yang semuanya masih sekitar Keraton Yogyakarta. Lapar, sebenarnya dari sini, Anda bisa minta diantar ke pusat jajanan nasi gudeg, yang tidak terlalu jauh dari Keraton. Tapi jangan jalan kaki ya, naik becak atau delman saja biar nyaman. Tapi dalam perjalanan saya kali ini, saya tidak melakukan itu, karena sudah pernah saya lakukan di perjalanan saya ke Yogyakarta sebelumnya. So this is another trip.

 

Setelah melewati Alun-alun Keraton Yogyakarta, delman/andong pun berbalik kearah Malioboro. Dalam perjalanan pulang ke Malioboro, kami minta berhenti di salahsatu pusat oleh-oleh bakpia patok no 25 (pendapat personal sih, menurut saya sejauh ini, bakpia ini yang rasanya terbaik diantara bakpia lainnya). Ohya sebaiknya Anda jangan mudah tergoda saat tukang becak ato kusir delman mengarahkan Anda ke pusat oleh-oleh bakpia tertentu, karena walaupun harganya 'miring' belum tentu enak, bagi saya soal makanan, mending beli yang rasanya sudah pasti cocok di lidah saya. Akhirnya saya putuskan beli oleh-oleh di hari pertama kedatangan saya di Yogyakarta. Tidak mau beresiko besok tidak sempat lagi. Sementara saya beli oleh-oleh untuk tetangga rumah dan teman kantor suami, mbak Poppy juga membeli oleh-oleh untuk saya. Jadi saya beli oleh-oleh, dan saya pun dibelikan oleh-oleh. Hehehehe...terima kasih mbak Poppy dan Mas Margono.

Kembali ke jalanan Malioboro, saatnya makan siang. Mbak Poppy pun mengajak makan siang di KFC yang terselip diantara lapak-lapak cinderamata di jalanan Malioboro. Kenyang, kami naik dua becak menuju hotel Ameera di jalan Dagen no 11-13, Malioboro. Akhirnya bisa masuk kamar, nyalakan AC, hidupkan TV....pengennya sih tidur siang karena masih ngantuk banget (well tadi pagi saya berangkat dari rumah Cikarang ke bandara sekitar pukul 04.00 wib). Tapi rencana tinggal rencana, anak-anak mbak Poppy malah bersemangat loncat-loncal diatas tempat tidur. Hehehe. Setelah sholat Dhuhur, saya meninggalkan mbak Poppy dan anak-anak, menuju hotel Dagen. Panas, capek bawa oleh-oleh yang berat, setelah check in, saya malah tertidur di kamar hotel, meninggalkan mbak Poppy di kamar hotel berbeda. Hahahaha, jam 15.00 wib saya mandi dan kembali ke hotel Ameera, ternyata anak-anak sudah bosan dan ingin pulang ke rumah. Rencana sore itu jalan-jalan ke pasar Beringharjo pun pupus. Mbak Poppy pulang, saya pun tetap di kamar hotel, menunggu kedatangan suami dan patner saya. Menjelang maghrib, suami dan patner saya, Puput sampai di hotel Ameera. Setelah saya menyerahkan kunci kamar (yang sudah saya pakai kamarnya tadi siang bersama mbak Poppy hehehehe) kepada mbak Puput, saya pun menuju hotel saya bersama suami tercinta.

Malam, saatnya makan malam, saya dan suami pun menuju kawasan Malioboro. Tapi malam itu, suami saya sangat capek, akhirnya kami memutuskan hanya cari makan, dan karena tidak dalam kondisi fit karena lelah, suami meminta makan malam di McD yang buka 24 jam, terletak di Mal Malioboro. Kecewa sih, tadi siang fast food, malam junk food lagi. Tapi ya kalau kondisi badan sudah tidak fit, paling aman mencari makanan yang lebih higienis. Setelah makan malam, kami bertemu mbak Puput di lobi hotel Ameera, kami pun membicarakan banyak hal terkait topik kerjasama kami ke depannya. Mbak Puput dapat panggilan dari temannya yang juga sedang berkunjung ke Yogyakarta, saya dan suami pun menuju Hotel Dagen. Saatnya istirahat.

****************************************************************************************************

Second Day. Pagi-pagi jam 7, sudah ada yang mengetuk kamar saya. Ternyata sepupu saya, Mita sudah sampai. Dia naik travel dari surabaya tadi malam. Kami pun langsung menikmati sarapan buffet yang disediakan hotel, enak semua masakannya walau tidak terlalu banyak pilihan. Restoran cukup penuh, rupanya penghuni kamar hotel ini sedang banyak-banyaknya. Jam 7.30 wib, suami saya sudah dijemput. Akhirnya tinggal saya dengan Mita di kamar. Setelah mandi, Mita tidak mau melewatkan setiap waktu di Yogyakarta. Karena dia bersikeras untuk jalan-jalan pagi ini, akhirnya saya memintanya pergi dengan mbak Puput, yang juga ingin menikmati Yogyakarta sebelum kembali ke Surabaya siang ini.

Dan ternyata Mita dan mbak Puput menuju ke Tamansari naik becak bertiga, PP Rp 50.000. Tamansari adalah taman kerajaan atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya. Sebenarnya selain Taman Sari, Kesultanan Yogyakata memiliki beberapa pesanggrahan seperti Warungboto, Manukberi, Ambarbinangun dan Ambarukmo. Kesemuanya berfungsi sebagai tempat tetirah dan bersemadi Sultan beserta keluarga. Disamping komponen-komponen yang menunjukkan sebagai tempat peristirahatan, pesanggrahan-pesanggrahan tersebut selalu memiliki komponen pertahanan. Begitu juga hanya dengan Tamansari.

Letak Tamansari hanya sekitar 0,5 km sebelah selatan Kraton Yogyakarta. Arsitek bangunan ini adalah bangsa Portugis, sehingga selintas seolah-olah bangunan ini memiliki seni arsitektur Eropa yang sangat kuat, disamping makna-makna simbolik Jawa yang tetap dipertahankan. Namun jika kita amati, makna unsur bangunan Jawa lebih dominan di sini. Tamansari dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I atau sekitar akhir abad XVII M. Tamansari bukan hanya sekedar taman kerajaan, namun bangunan ini merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari kolam pemandian, kanal air, ruangan-ruangan khusus dan sebuah kolam yang besar (apabila kanal air terbuka).

 

Sementara itu lorong-lorong yang ada di kawasan ini dahulu konon berfungsi sebagai jalan rahasia yang menghubungkan Tamansari dengan Kraton Yogyakarta. Bahkan ada legenda yang menyebutkan bahwa lorong ini tembus ke pantai selatan dan merupakan jalan bagi Sultan Yogyakarta untuk bertemu dengan Nyai Roro Kidul yang konon menjadi istri bagi raja-raja Kasultanan Yogayakarta. Bagian ini memang merupakan bagian yang berfungsi sebagai tempat pertahanan atau perlindungan bagi keluarga Sultan apabila sewaktu-waktu ada serangan dari musuh.

Di lingkungan Tamansari ini dapat dijumpai masjid Saka Tunggal yang memiliki satu buah tiang. Meskipun masjid ini dibangun pada abad XX, namun keunikannya tetap dapat menjadi aset dikompleks ini. Disamping itu, kawasan Tamansari dengan kampung tamam-nya ini sangat terkenal dengan kerajinan batiknya. Kita dapat berbelanja maupun melihat secara langsung pembuatan batik-batik yang berupa lukisan maupun konveksi.


Bicara tentang Yogyakarta memang tidak akan ada habisnya, banyak tempat wisata yang menarik. Salahsatu yang tidak boleh dilewatkan adalah Candi Borobudur, candi terbesar di abad kesembilan. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.


Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Tidak bawa kendaraan, coba cari informasi di sekitar hotel Anda, pasti banyak kendaran yang bisa disewa, bahkan hotel-hotel tertentu sudah memiliki paket tour.

 

Selain itu, ada Candi Prambanan yang juga wajib dikunjungi. Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.

Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Menikmati malam di Yogyakarta tak lengkap dengan menikmati keindahan Sendratari Ramayana berlatar belakang Candi Prambanan. Sendratari Ramayana adalah seni pertunjukan yang cantik, mengagumkan dan sulit tertandingi. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Kisah Ramayana yang dibawakan pada pertunjukan ini serupa dengan yang terpahat pada Candi Prambanan. Seperti yang banyak diceritakan, cerita Ramayana yang terpahat di candi Hindu tercantik mirip dengan cerita dalam tradisi lisan di India. Jalan cerita yang panjang dan menegangkan itu dirangkum dalam empat lakon atau babak, penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta. Seluruh cerita disuguhkan dalam rangkaian gerak tari yang dibawakan oleh para penari yang rupawan dengan diiringi musik gamelan. Anda diajak untuk benar-benar larut dalam cerita dan mencermati setiap gerakan para penari untuk mengetahui jalan cerita. Tak ada dialog yang terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas

Ingin menikmati pantai, datanglah ke Pantai Parangtritis. Parangtritis adalah desa di kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Di desa ini terdapat pantai Samudra Hindia yang terletak kurang lebih 25 kilometer sebelah selatan kota Yogyakarta. Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir yang tinngi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas Parangtritis.

Selain itu ada pemandian yang disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal dari pengunungan di lokasi tersebut. Air panas dari parang wedang dialirkan ke pantai parangtritis untuk bilas setelah bermain pasir dan juga mengairi kolam kecil bermain anak-anak. Lokasi lain adalah Pantai Parangkusumo yang di pantai tersebut terdapat tempat konon untuk pertemuan antara raja Yogyakarta dengan Nyi Roro Kidul. Pada hari-hari tertentu (biasa bulan suro) di sini dilakukan persembahan sesajian (labuhan) bagi Ratu Laut Selatan atau dalam bahasa Jawa. Penduduk setempat percaya bahwa seseorang dilarang menggunakan pakaian berwarna hijau muda jika berada di pantai ini. Pantai Parangtritis menjadi tempat kunjungan utama wisatawan terutama pada malam tahun baru Jawa (1 muharram/Suro).

 

Dan Yogyakarta masih menyimpang banyak tempat menarik. Tapi kembali ke cerita saya, sekitar jam 10 pagi, saya menuju lobi Hotel Ameera. Saya pun menunggu kedatangan teman-teman baru saya. Berturut-turut, hadir Nanda, Ari, Frendy, Yoga menemui saya. Kami pun banyak bertukar cerita terkait organisasi Badan Koordinasi Kegiatan Mahasiswa Teknik Kimia Indonesia. Jam 12.00 wib, waktunya check out, Mbak Puput kembali ke hotel Ameera. Setelah sholat, kami pun berpamitan, Mbak Puput harus mengejar kereta api Argo menuju Surabaya jam dua siang itu. Kami pun berpamitan. Tak terasa, perut sudah keroncongan, saya dan teman-teman baru saya berjalan kaki menuju Mal Malioboro, kami pun makan siang bersama di McD, sepupu saya Mita sudah menunggu disana). Tak terasa, waktu sudah berjalan terus, obrolan siang itu harus diakhiri, karena saya masih punya agenda lain, mencari titipan saudara saya di Pasar Beringharjo. Kami pun berpisah, terima kasih ya teman-teman sudah meluangkan waktu untuk bertemu saya.

BKKMTKI

Kata anak-anak mirip artis, siapa ya?

Menuju Pasar Beringharjo, kembali menyusuri jalanan Malioboro, sudah sore, saatnya kembali ke Hotel Dagen. Capek banget. Dan akhirnya suami saya kembali ke kamar. setelah sholat maghrib dan membersihkan badan, saya dan suami pun meninggalkan Mita sendiri di kamar. Ya, Mita harus tetap stay di hotel untuk menunggu kedatangan travel yang akan menjemputnya dari Hotel di Yogyakarta, menuju Surabaya. Sebelum pergi, saya pun memesan nasi+ayam bakar untuk Mita agar bisa dinikmati dalam kamar. Sementara saya dan suami melangkah keluar menuju Malioboro. Tercium bau lezat, kami pun tak kuasa untuk mencoba makan malam di pinggir jalan, warungnya cukup ramai, dan ternyata rasanya memang lezat.

Kelar makan malam, kami menuju Mal Malioboro. Salahsatu tempat favorit kami disini adalah counter dagadu dan toko buku Gramedia. Saya pun membeli baju koleksi DAGADU, tak lupa membelikan oleh-oleh untuk adik ipar. Hehehe...tapi apa daya saya tidak kuasa menahan kantuk, jadi tidak sempat belanja di jalanan Malioboro, akhirnya kami pun pulang, sampai hotel tepat jam 8 malam, dan Mita baru saja dijemput mobil travelnya, kami sempat berpamitan. Kembali ke kamar, waktunya istirahat. Senin pagi, morning call membangunkan kami, taxi juga sudah tersedia. Jam 4.30 dini hari, kami pun naik taxi menuju bandara. Setelah check in, kami pun menyempatkan diri masuk Lounge, sarapan dan ngenet bentar, lumayan. Jam 5.45 wib kami pun boarding, terbang kembali ke Jakarta menggunakan GARUDA. Untuk Anda yang membutuhkan penerbangan pagi, ada GARUDA atau BATAVIA. Yogyakarta, i'll be back for another trip, for another meeting. Are you with me?