www.ika-riris.info

Newsflash

'Allah Menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.' QS 3:18

'Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.' QS 3:19

 

Gaharu

E-mail Print PDF

Tanpa sengaja saya melihat publikasi tentang workshop Gaharu di salahsatu jejaring sosial. Kebetulan setelah melihat agenda acaranya, dikatakan pada hari kedua akan ada kunjungan ke pabrik penyulingan atsiri (minyak gaharu). Karena saya memang sedang mempelajari minyak atsiri, maka saya memutuskan untuk mendaftar di workshop Gaharu yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Univesitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang pada tanggal 25-26 Mei 2011. Biayanya cukup murah, hanya Rp 250.000 untuk 2 hari.

Dan berikut ini sekilas reportase saya tentang Gaharu untuk Anda, pengunjung setia website ini.

 

Tanggal 25 Mei 2011.

 

Dan saya pun datang terlambat pada hari H, bukan saya yang tidak berangkat pagi dari rumah, tapi karena saya salah naik angkutan umum-nya. Alhasil, saya pun melewatkan diskusi dengan Bapak MS. Ka'ban (mantan Menteri Kehutanan RI). Well tapi kali ini kita kan bukan membahas soal perjalanan saya ya?? He he he...maaf...yuk dilanjut

Gaharu adalah kayu berwarna kehitaman dan mengandung resin khas yang dihasilkan oleh sejumlah spesies pohon dari marga Aquilaria, terutama A. malaccensis. Resin ini digunakan dalam industri wangi-wangian (parfum dan setanggi) karena berbau harum. Gaharu sejak awal era modern (2000 tahun yang lalu) telah menjadi komoditi perdagangan dari Kepulauan Nusantara ke India, Persia, Jazirah Arab, serta Afrika Timur.

 

 

 

 

Gaharu dihasilkan tanaman sebagai respon dari masuknya mikroba yang masuk ke dalam jaringan yang terluka.[2] Luka pada tanaman berkayu dapat disebabkan secara alami karena adanya cabang dahan yang patah atau kulit terkelupas, maupun secara sengaja dengan pengeboran dan penggergajian.[2] Masuknya mikroba ke dalam jaringan tanaman dianggap sebagai benda asing sehingga sel tanaman akan menghasilkan suatu senyawa fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap penyakit atau patogen.[3] Senyawa fitoaleksin tersebut dapat berupa resin berwarna coklat dan beraroma harum, serta menumpuk pada pembuluh xilem dan floem untuk mencegah meluasnya luka ke jaringan lain.[3] Namun, apabila mikroba yang menginfeksi tanaman dapat mengalahkan sistem pertahanan tanaman maka gaharu tidak terbentuk dan bagian tanaman yang luka dapat membusuk. Ciri-ciri bagian tanaman yang telah menghasilkan gaharu adalah kulit batang menjadi lunak, tajuk tanaman menguning dan rontok, serta terjadi pembengkakan, pelekukan, atau penebalan pada batang dan cabang tanaman.[4] Senyawa gaharu dapat menghasilkan aroma yang harum karena mengandung senyawa guia dienal, selina-dienone, dan selina dienol.[4] Untuk kepentingan komersil, masyarakat mengebor batang tanaman penghasil gaharu dan memasukkan inokulum cendawan ke dalamnya. Setiap spesies pohon penghasil gaharu memiliki mikroba spesifik untuk menginduksi penghasilan gaharu dalam jumlah yang besar. Beberapa contoh cendawan yang dapat digunakan sebagai inokulum adalah Acremonium sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium nivale, Fusarium solani, Fusarium fusariodes, Fusarium roseum, Fusarium lateritium dan Chepalosporium sp.

 

Gaharu banyak diperdagangan dengan harga jual yang sangat tinggi terutama untuk gaharu dari tanaman famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp. yang dalam dunia perdangangan disebut sebagai gaharu beringin.[5] Untuk jenis gaharu dengan nilai jual yang relatif rendah, biasanya disebut sebagai gaharu buaya.[5] Selain ditentukan dari jenis tanaman penghasilnya, kualitas gaharu juga ditentukan oleh banyaknya kandungan resin dalam jaringan kayunya[5]. Semakin tinggi kandungan resin di dalamnya maka harga gaharu tersebut akan semakin mahal dan begitu pula sebaliknya.[5] Secara umum perdagangan gaharu digolongkan menjadi tiga kelas besar, yaitu gubal, kemedangan, dan abu.[6] Gubal merupakan kayu berwarna hitam atau hitam kecoklatan dan diperoleh dari bagian pohon penghasil gaharu yang memiliki kandungan damar wangi beraroma kuat.[6] Kemedangan adalah kayu gaharu dengan kandungan damar wangi dan aroma yang lemah serta memiliki penampakan fisik berwarna kecoklatan sampai abu-abu, memiliki serat kasar, dan kayu lunak.[6] Kelas terakhir adalah abu gaharu yang merupakan serbuk kayu hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu

 

Tanggal 26 Mei 2011.

Kalau pada hari pertama workshop lebih banyak mengulas soal Gaharu dan budidaya-nya, pada hari kedua (alhamdulillah, saya sudah tidak datang terlambang) dibahas tentang perdagangan Gaharu. Sekitar jam 11 siang, semua peserta dibawa ke Bogor untuk melihat kebun Gaharu. Cukup jauh, setelah molor dan break untuk istirahat sholat di jalan, kami sampai di kebun yang dituju sekitar jam 2 siang.

Just Arrived

Semua Peserta Terlihat Antusias

Catatan saya sepanjang workshop :

  • Gaharu tanaman budidaya yang dilindung perdagangannya. Sangat penting bagi Anda yang membudidayakan Gaharu dalam jumlah banyak untuk mendaftarkan di Dinas Kehutanan terdekat. Ini untuk memudahkan proses penjualan Gaharu Anda saat panen di belasan tahun mendatang
  • Gaharu semakin bagus bila ditanam di lahan kritis, tapi untuk usia tanam 2 tahun, pohon Gaharu butuh pelindung dari sinar matahari langsung.
  • Sayangnya harga jual Gaharu bersifat subjektif. Tidak ada standard harga khusus. Posisi yang lemah membuat banyak petani Gaharu hanya bisa pasrah menjual Gaharu-nya dengan sangat murah kepada Exportir.
  • Gaharu banyak digunakan untuk kegiatan keagamaan seperti dupa, tasbih.

Dan kemudian perjalanan dilanjutkan menuju pabrik penyulingan atsiri yang khusus berproduksi dengan bahan baku kayu Gaharu atau Cendana, milik Bapak Ramzi @ Bogor.

 

Dan hari itu, walau lelah, tetapi kami cukup puas dengan workshop selama dua hari yang cukup memberikan wawasan tentang Gaharu. Saya pun sampai di rumah sekitar jam 10 malam. Tidur nyenyak sambil bermimpi suatu saat saya akan menjadi pengusaha minyak atsiri yang cukup sukses.